News

Detak Jantung Terlalu Lambat? Waspada Tanda Bahaya Bradikardia

Jakarta (KABARIN) - Kondisi detak jantung per menit yang secara konsisten berada di bawah ambang batas mengindikasikan kemungkinan kondisi berbahaya yang memerlukan perhatian medis dan ditangani dengan serius.

Ditulis laman Hindustan Times, Rabu (8/4) waktu setempat, direktur utama dan Kepala Departemen Kardiologi dan Elektrofisiologi di Rumah Sakit Fortis, Delhi Dr. Nityanand Tripathi, menjelaskan detak jantung yang lambat, sering dikenal sebagai bradikardia, didefinisikan sebagai kurang dari 60 denyut per menit.

“Bradikardia seringkali tidak terdeteksi karena gejalanya samar, terjadi secara berkala, atau salah dikaitkan dengan stres, kelelahan, atau proses penuaan alami,” katanya.

Dokter menjelaskan bahwa irama jantung dikendalikan oleh nodus sinoatrial (SA), yaitu alat pacu jantung alami tubuh. Ketika sistem listrik ini melemah, mengalami degenerasi, atau malfungsi, jantung mungkin gagal memompa darah kaya oksigen yang cukup ke organ-organ vital.

Seiring waktu, penurunan sirkulasi dapat memengaruhi fungsi otak, stamina fisik, dan kesejahteraan secara keseluruhan.

Beberapa tanda detak jantung lambat yang memerlukan evaluasi medis segera diantaranya kelelahan yang terus-menerus, kelemahan yang tidak dapat dijelaskan, pusing dan perasaan santai. Dan juga tanda-tanda yang sedikit lebih 'mengkhawatirkan' yakni kebingungan, sesak napas saat melakukan aktivitas rutin, rasa tidak nyaman di dada dan episode pingsan atau hampir pingsan.

Ahli kardiologi tersebut mencatat bahwa orang dewasa yang lebih tua, khususnya mereka yang berusia di atas 65 tahun, menghadapi risiko bradikardia yang lebih tinggi karena keausan sistem konduksi listrik jantung yang berkaitan dengan usia.

“Kondisi kronis seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit arteri koroner dapat semakin meningkatkan kerentanan,” kata Tripathi.

Selain itu, menurut ahli jantung, orang lanjut usia memiliki risiko lebih tinggi karena gejala mereka sering disalahartikan sebagai penuaan normal, yang dapat menunda diagnosis dan intervensi yang tepat.

Untuk diagnosis, ia merekomendasikan elektrokardiogram (EKG), karena dapat mengidentifikasi irama jantung abnormal, sementara pemantauan ambulasi, seperti alat Holter, dapat menangkap episode intermiten selama 24 hingga 48 jam.

Penanganan tergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya dan dapat berkisar dari penyesuaian obat hingga koreksi ketidakseimbangan metabolisme. Namun, bradikardia simtomatik yang persisten seringkali membutuhkan terapi alat pacu jantung.

Penerjemah: Fitra Ashari
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026
TAG: